Budaya Timur ” Masih ” Merupakan Budaya Indonesia

Budaya Timur ” Masih ” Merupakan Budaya Indonesia

Membentang dari sabang sampai merauke. Negeri dengan kekayaan alam yang mengakar di setiap jengkal tanah yang dipijak. Flora dan fauna menjadi penjaga keasrian batu zamrud di garis khatulistiwa ini. Berpuluh ribu kepulauan membentang diatas samudera yang menyembunyikan misteri laut yang begitu indah. Keragaman budaya dan adat istiadat menjadikannya kaya akan kemajemukan yang menjadi aset menggirukan. Negeri ini adalah warisan dunia akan sebuah potensi dan kekayaan. Ya aku sedang berbicara mengenai Indonesia.

Indonesia adalah sebuah negara yang terletak di bagian timur dunia. Secara geografis Indonesia terletak diantara benua Asia dan Australia yang merupakan bagian timur dunia. Hal ini menjadikan budaya dan corak ketimuran menjadi identitas jiwa masyarakat Indonesia. Walaupun Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku dan golongan, adat ketimuran kental di individu masyarakat negeri ini. Nilai luhur ini merupakan warisan yang diturunkan para pendahulu untuk diteruskan ke generasi berikutnya. Saya yakin semua orang tua di Indonesia menanamkan budaya timur ke dalam diri anaknya.

Sebenarnya apa itu budaya timur dan apa bedanya dengan budaya barat ? Masyarakat dari bangsa timur dikenal dengan keramahtamahannya, bahkan terhadap orang asing. Kepribadian bangsa timur juga kental dengan tutur kata yang lemah lembut dan sopan dalam bergaul maupun berpakaian. Cara berpakaian orang timur cenderung tertutup dan tidak ‘mengumbar’. Sifat tidak individualis, saling menghargai dan tolong menolong satu sama lain tanpa pamrih menjadi sifat yang dijunjung bangsa timur. Kebiasaan untuk menjaga tali silaturahmi antar sesama, pekerja keras, tingkat keagamaan atau religiusitas yang tinggi, menjadi suatu hal yang lumrah di masyarakat timur.

Disini saya tidak bermaksud untuk mengatakan kebudayaan barat berbeda 180 derajat dengan budaya timur. Budaya barat juga memiliki kelebihan yang membedakan dengan budaya timur.  Orang Barat menggunakan ilmu pengetahuan dan filsafat dalam tindakannya. Mereka melakukan berbagai diskusi dan debat untuk menemukan atau menentukan makna yang sebenarnya. Penghargaan terhadap martabat manusia, kebebasan, dan penciptaan dan pemanfaatan teknologi menjadi suatu identitas bagi bangsa barat. Sebagai contoh, Liberalisme dalam dalam bertutur kata, berpakaian dan berpendapat tanpa membedakan status sosial adalah suatu hal yang wajar. Mereka banyak belajar dan juga mengajar yang awalnya datang dari proses diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan.

 

Secara general, tabel ini memperlihatkan perbedaan antara orang barat dengan orang timur.

 

Orang Barat

Orang Timur

Opini

Langsung ke pokok permasalahan

Berbelit-belit dalam mengutarakan pendapat

Waktu

Sangat menghargai waktu

Cenderung jam karet

Hubungan keluarga

Cenderung individualistis

“Nggak ngumpul berarti nggak makan”

Sesuatu yang baru

Cenderung tidak ingin langsung memilikinya, sekedar tahu dulu

Cenderung konsumtiv terhadap barang baru

Anak

Dididik mandiri semenjak kecil

Cenderung dimanja dan belum bisa mandiri

Transportasi

Naik sepeda atau jalan kaki

Cenderung naik kendaraan bermotor

Menghadapi masalah

Cenderung mencari cara bagaimana menyelesaikan masalah itu

Cenderung menghindari masalah

Makan

Dibagi 3 : Pembuka, penutup, utama

Semua makanan utama

Weekend

Lebih sering menghabiskan waktu dirumah

Lebih sering jalan-jalan ke mall atau tempat hiburan

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah benar Indonesia masih menganut budaya timur ? Apakah budaya timur yang katanya sopan dan ramah telah terkikis oleh penetrasi kebudayaan barat ? Saya akan share sedikit pengalaman yang saya alami.

Semenjak lahir saya selalu tinggal di Jakarta, sang ibu kota metropolitan. Harus saya akui kehidupan di Jakarta cukup keras. Kalau kata hukum rimba, siapa yang kuat maka dia yang akan menang. Mungkin pepatah terlalu ekstrim, namun saya cenderung melihat tren yang bergerak ke arah tersebut. Mengapa ? Karena terdapat pengikisan identitas yang terjadi di kota tempat tinggal saya.

Ketika saya kecil, saya selalu dididik sopan santun oleh kedua orang tua saya. Benar adanya kalau semua orang tua pasti mewariskan nilai luhur budaya timur kepada anaknya. Saya diajarkan untuk jalan menunduk kalau di depan orang tua, berpakaian rapi, mandi harus 2 kali sehari, dan lain-lain. Hal tersebut juga terjadi pada teman-teman sepermainan saya. Budaya timur masihlah kental di lingkungan saya. Itu mutlak.

Saya beranjak remaja dan seiring berjalannya waktu, saya melihat adanya kecenderungan pemudaran budaya timur. Ketika globalisasi terjadi, saya melihat budaya barat adalah kiblat baru dari arah pergerakan budaya timur. Sebagai contoh :

  1. Gaya pakaian: Budaya timur yang mengenakan pakaian tertutup mulai hilang dan tergantikan dengan pakaian yang agak terbuka dan mengumbar aurat. Buktinya ? Lihat saja di televisi.
  2. Tutur kata: Budaya timur terkenal dengan tutur katanya yang halus, namun hal tersebut cenderung memudar. Hal ini ditandai dengan amarah dan nada bicara tinggi untuk cara bicara. Hal ini disebabkan oleh tempramen karena tuntutan ekonomi yang menekan. Selain itu bahasa asing juga sudah mulai menggantikan kosa kata bahasa Indonesia. Buktinya ? Lihat saja penggunaan istilah asing yang tak bisa di terjemahkan ke bahasa Indonesia.
  3. Tren musik: Saat ini musik asing bebas masuk ke Indonesia dan mulai mengakar di jiwa anak muda. Nasionalisme dalam musik dalam negeri mulai tergantikan oleh lirik-lirik berbahasa asing. Buktinya ? Musik Indonesia mulai menggunaakn bahasa asing.
  4. Makanan: Saat ini banyak sekali restoran cepat saji milik negara barat. Anak-anak muda cenderung lebih menyukai restoran tersebut dibandingkan makanan khas daerahnya. Makanan daerah, kuno deh. itu penjabaran secara singkat. Buktinya ? kalau dibayarin lebih pilih mana : Makan di restoran perancis atau restoran padang ?
  5. Sopan santun: Ini merupakan pengikisan budaya yang paling saya sangat sayangkan. Saya melihat sekali adanya perbedaan sopan santun ketika saya dulu kecil dengan ketika saya berusia 4 tahun sekarang. Saya melihat sikap ramah tamah mulai tergantikan dengan sikap cuek dan ‘jutek’. Anak-anak muda banyak yang tak menaruh hormat pada tetuanya. Senyum tak selalu menjadi mimik muka ketika menyapa, dsb. Bukti kecilnya ? jarang ada anak muda yang jalan menunduk di depan orang tua.
  6. Kepercayaan: Pelajaran yang saya pegang teguh ketika hidup di Jakarta adalah, jangan percaya dengan orang asing karena banyak serigala berbulu domba dimana-mana. Dulu saya punya pengalaman pahit dicopet karena terlalu percaya dengan orang asing di bus. Niatnya mau menolong malah apes sendiri. Ketika berjalan di keramaian kita dituntut untuk waspada karena tak semua orang adalah orang yang tak punya niat jahat.

Lalu apa kesimpulan setelah saya tinggal 4 tahun di jakarta, yang notabennya ibu kota negara. Budaya timur memang merupakan budaya yang menjadi identitias masyarakat. Generasi tua masih mengajarkan nilai luhur budaya timur ke anak-anaknya. Namun terjadi kecenderungan untuk mengubah kiblat ke budaya barat, terutama di generasi muda. Kalau kalimat gaulnya ‘ah kuno loh kalau nggak ngikutin budaya barat.’ Jika ini terus dilanjutkan maka masyarakat Indonesia akan kehilangan identitas aslinya, yakni budaya timur.

seperti yang dikutip dalam blog saudara fadil ( http://fadli-ahmad.blogspot.com/2012/12/5-kebudayaan-indonesia-yang-mulai-pudar.html ) ada 5 kebuyaan indonesia yang mulai punah.

Budaya tersebut diantaranya :

1. Cium Tangan Pada Orang Tua
Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) udah mulai berkurang. Jadi, kami coba angkat deh, supaya Anda mau mengembalikan budaya kita, menjadi budaya sesungguhnya

2. Penggunaan tangan kanan
dalam penggunaan tangan kanan dapat dilihat ketika para remaja mengambil makanan atau snack menggunakan tangan kirinya yang seharusnya menggunakan tangan kanan.Dan tidak ketinggalan ketika makan steak garpu yang seharusya ditangan kanan (adab makan yang diajakarkan rasul) dipegangditangan kiri.

3. Senyum dan Sapa
Bila di luar negeri sih, saya rasa gak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan.
(kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir)

4. Musyawarah
Ini sih Indonesia banget! Dulu citra bangsa kita identik dengan ramah tamah dan murah senyum. So, jangan sampai hilang, ya! Ga ada ruginya juga kita ngelakuin hal ini, toh juga bermanfaat bagi kita sendiri. Karena senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban dengan sekitar kita.

5. Gotong Royong
Satu lagi budaya yang udah jarang ditemuin khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: